Taxi & Walking Tour – Jalan Gelora (Senayan & Palmerah Area) – 05 Juli 2026
Rp 235.000 Original price was: Rp 235.000.Rp 205.000Current price is: Rp 205.000.
Tahukah kamu bahwa menurut tradisi, jawara dari Betawi, si Pitung lahir di daerah Palmerah? Tahukah kamu juga bahwa di akhir abad ke-19 di daerah ini, tumbuh subur rumah-rumah soehian (prostitusi) kenamaan termasuk milik dari Jeanne Oort? Dan terjadi satu kegemparan di masa itu, karena salah satu dari anak asuh Jeanne bernama Fientje de Fenicks terbunuh dan diduga pejabat kolonial terlibat dalam peristiwa ini.
Walau begitu, banyak yang belum mengetahui asal dari penamaan “Palmerah”. Kata “pal” sendiri berasal dari istilah Belanda “paal”, yang berarti penanda jarak setiap sekitar 1,5 km. Di awal masa VOC, sistem matriks belum ditemukan dan digunakan.
Di daerah ini juga terdapat sebuah puri (landhuis) yang dahulu merupakan villa dari seorang pejabat VOC bernama Andries Hartsinck. Bangunan cagar budaya ini masih berdiri sampai sekarang. Di sini terdapat pula Bentara Budaya Jakarta yang berbentuk khas dengan rumah joglo yang berasal dari Kudus. Bangunan ini bukan sekadar galeri seni, tetapi ruang pertemuan gagasan, ekspresi seniman, dan pelestarian budaya lintas zaman.
Tak kalah menarik, kawasan Senayan pun menyimpan cerita dari abad lampau. Ada beberapa asal usul dari nama distrik ini. Salah satunya, menurut tradisi berasal dari seorang tuan tanah dari Bali di wilayah itu bernama Wangsanayan. Adapula yang mengaitkan asal usulnya dengan pohon sonokeling, penghasil kayu untuk ukiran, yang dikenal pula sebagai pohon sanayan.
Dahulu kawasan ini hanyalah lahan rawa dan kebun yang sunyi, sebelum bertransformasi besar pada era 1960-an saat Bung Karno membangun kompleks olahraga Gelora Bung Karno untuk perhelatan Asian Games. Sejak itu, Senayan menjelma jadi simbol nasionalisme dan tempat berdirinya kompleks parlemen hingga pusat olahraga kenegaraan.
Saat ini Palmerah dan Senayan bukan sekadar nama-nama wilayah. Mereka adalah ruang hidup yang merekam denyut sejarah Jakarta, dari batas kolonial hingga ruang aspirasi rakyat. Dalam tur ini, kita akan menjelajahi sisa-sisa masa lalu itu dari bangunan kolonial, stasiun, landmark olah raga, hingga gedung-gedung pemerintahan yang membentuk wajah Jakarta sekarang. Mari bergabung dalam perjalanan bersejarah ini untuk mengungkap cerita Palmerah & Senayan. Pendaftaran dapat dilakukan melalui link di bio kami atau kunjungi www.walkindies.com. Sampai jumpa, Teman Walk Indies!
Reviews
There are no reviews yet.