Kamp Sultan Mataram (Matraman) Walking Tour – 26 September 2026
Rp 225.000 Original price was: Rp 225.000.Rp 195.000Current price is: Rp 195.000.
Pada tahun 1621, hubungan Mataram di bawah pemerintahan Sultan Agung dengan VOC di Batavia memburuk. Hal ini dikarenakan beberapa hal termasuk keputusan VOC untuk tidak membantu Mataram dalam menyerang Surabaya. Surabaya, yang merupakan sebuah kadipaten merdeka, tidak mau tunduk kepada supremasi pemerintah Mataram. Setelah pengepungan kota Surabaya yang terjadi sangat dramatis dan berlangsung tidak singkat, kota pesisir itu pun takluk pada kekuasaan Mataram di tahun 1625. Setelah itu Sultan Agung memalingkan pandangan ke arah barat pulau untuk misi selanjutnya.
Tahun 1628, pasukan Mataram mulai mendekati kota Batavia baik dari jalur darat dan laut. Kampanye militer ini dipimpin oleh Tumenggung Bahureksa dan Pangeran Mandurareja, cucu dari patih pertama Mataram. Pasukan datang dari daratan sisi barat dan selatan kota Batavia. Mereka mencoba membendung debit sungai Ciliwung masuk ke dalam tembok kota. Di sisi timur aliran Sungai Ciliwung, pasukan Mataram berkemah. Kampanye penyerangan ini berlangsung dalam dua gelombang dalam dua tahun berturut-turut. Namun, keduanya berakhir dengan kegagalan. Tetapi, usaha meracuni sungai berhasil, sama seperti yang dilakukan di Sungai Brantas pada saat pengepungan Surabaya. Etimologi nama kawasan “Matraman” ini sangat erat dengan keberadaan kemah-kemah pasukan Mataram di selatan kota.
Kelak ratusan tahun setelah era pengempuran usai, daerah Matraman muncul kembali dalam lembaran sejarah episode penyerbuan Inggris ke Jawa. Daerah ini dibangun sebagai tangsi dan kubu pertahanan militer di zaman Daendels. Tepatnya, sebagai pertahanan keluar masuk ke Batavia dari sisi Meester Cornelis (Jatinegara). Kubu pertahanan sepanjang jalan dari Salemba menuju Meester ini telah diperlengkapi dengan meriam-meriam. Terbukti, usaha ini memperlambat pergerakan pasukan Inggris untuk menggemparkan pasukan Napoleon (Belanda dan Prancis) yang tetap bertahan di Jatinegara. Peristiwa ini berhubungan dengan etimologi nama Palmeriam. Terdapat pula kisah tentang terbakarnya gudang mesiu di daerah Pondok Jati, yang dahulu dikenal sebagai daerah Solitude.
Ada pula beberapa cagar budaya bersejarah yang masih berdiri di kawasan ini. Salah satunya adalah gereja Katolik yang dibangun oleh arsitek Frans Ghijsels dari biro arsitek AIA pada tahun 1924. Dan juga, fasad dari bangunan sumur artesis Meester Cornelis abad ke-19 di tepi Jalan Raya Pos. Sumur artesis memenuhi kota Batavia abad 19 sebagai solusi air bersih dengan melakukan pemboran sampai kedalaman puluhan bahkan ratusan meter sampai menyentuh lapisan lapisan akuifer. Karena lokasi sumur tersebut di tengah-tengah fasilitas umum, sehingga perlu dipercantik dengan fasad bergaya klasik Romawi yang saat itu sedang naik daun di Hindia Timur.
Mari berpetualang bersama menyusuri sejarah di distrik Matraman. Pendaftaran dapat dilakukan di link bio kami atau melalui website www.walkindies.com.
Reviews
There are no reviews yet.