Minibus Tour Sejarah – Di Kaki Pangrango (Tjiawi & Batoetoelis) – 22 Agustus 2026
Rp 675.000 Original price was: Rp 675.000.Rp 645.000Current price is: Rp 645.000.
Gunung Pangrango berdiri megah di dekat ibukota Kerajaan Sunda Pajajaran. Gunung Pangrango adalah puncak tertinggi di selatan Batavia. Jalan Pos yang diinisiasi oleh Daendels (Groote Postweg) bahkan perlu mengikuti kontur gunung ini untuk dapat menghubungkan Batavia dan ibukota lama Priangan, Cianjur. Sekarang kita kenal jalanan ini sebagai jalanan menuju Puncak. Orang Eropa pertama yang tercatat mencapai puncak gunung ini adalah Direktur Kebon Raya Bogor yaitu Caspar Georg Karl Reinwardt pada Juli 1819, selain sebelumnya banyak tim ekspedisi yang telah dikirim oleh VOC untuk menelusuri daerah di luar Kota Benteng Batavia.
Di daerah Ciawi terdapat perkebunan teh yang dahulu dimiliki oleh dua bersaudara warga negara Jerman, Emil dan Theodor Helfferich di awal abad ke-20. Daerah Ciawi juga dipilih oleh Emil sebagai tempat untuk penyembuhan dan peristihatan untuk dirinya, jauh dari hiruk pikuk kota. Di masa itu terjadi Perang Dunia I. Karena rasa nasionalisme terhadap negaranya, kakak beradik ini membuat tugu di daerah Arca Domas, Ciawi untuk memperingati gugurnya tentara Armada Jerman Asia Tenggara yang ditenggelamkan oleh tentara Inggris di Falkland tahun 1914. Lokasi tugu yang terpencil ini juga menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi 10 tentara Jerman yang meninggal di Indonesia dari tahun 1944-1945. Nisan-nisan di sini berbentuk salib besi berwarna putih salju.
Di kaki Gunung Pangrango pula lah, Menteri Luar Negeri pertama Republik Indonesia dimakamkan. Rumah beliau yang berada di jantung kota Jakarta pernah menjadi kantor sementara Kementerian Luar Negeri RI. Mr (Meester in de Rechten) Ahmad Soerbarjo adalah orang yang menjaminkan kepada para tokoh pemuda Angkatan 1945 bahwa jika Bung Karno dan Bung Hatta dibawa kembali ke Jakarta dari Rengasdengklok, maka proklamasi akan dilakukan pada tanggal 17 Agustus 1945.
Berbicara tentang Kerajaan Sunda yang beribukota di Pakuan, tidak luput dari pembicaraan tentang Prasasti Batutulis. Prasasti ini dituliskan oleh Prabu Surawisesa pada tahun 1533 untuk menghormati ayahandanya, Sri Baduga Maharaja Ratu Haji yang lebih sering dikenal sebagai Prabu Siliwangi. Prasasti ini mengambarkan tentang silsilah dan warisan infrastruktur yang dibangun oleh Prabu Siliwangi. Dalam penelitian yang dilakukan oleh sejarahwan Sunda, Drs. Saleh Danasasmita, ada dugaan kuat bahwa Keraton Kerajaan Sunda Pajajaran pernah berdiri di daerah perbukitan ini. Seorang arsiparis tersohor dan sejarahwan Belanda di awal abad ke-20, Frederik De Haan juga berkesimpulan hal yang sama bahwa keraton terletak di antara aliran Cisadane dan Ciliwung ini. Hal ini berdasarkan laporan ekspedisi yang sudah disusun oleh ekspedisi-ekspedisi zaman VOC ke daerah luar benteng Batavia. Tak heran, di kawasan ini terdapat beberapa situs peninggalan dari kerajaan Hindu terakhir di Jawa Barat ini.
Mari berpetualang bersama WALK INDIES ke daerah Ciawi dan Batutulis, kawasan yang mungkin sering dilalui, namun belum dikenali lebih dekat. Tandai kalendermu dan menjelajah bersama kami. Dapatkan detail lebih lanjut dan daftarkan diri anda melalui website www.walkindies.com
Reviews
There are no reviews yet.