Pengumuman : Dibuka group jam 08:40 WIB. Terima kasih
Bung Kecil, begitu Bung Sjahrir kerap dijuluki, di awal Agustus 1945 menemui Bung Karno dan mendesak agar kemerdekaan Republik segera diumumkan. Upaya itu dilakukan sebelum Bung Karno terbang ke Dallat, Vietnam untuk bertemu dengan Marsekal Terauchi. Bung Sjahrir memberitahukan tentang berita Jepang sudah dijatuhi bom atom oleh tentara sekutu, tepatnya di kota Hiroshima. Sehingga, tidak perlu lagi berdialog dengan pihak Jepang. Bagi Sjahrir, tidak ada waktu yang lebih tepat untuk menyatakan kemerdekaan selain saat itu.
Sjahrir memang di zaman pendudukan Jepang memilih jalan untuk tidak berkolaborasi dengan penguasa dan bergerak dalam perjuangan kemerdekaan di “bawah tanah”. Sementara Dwitunggal Proklamator termasuk Bung Hatta, rekan perjuangannya dari masa kuliah di negeri Belanda sampai pembuangan di Boven Digul dan Banda Neira, akan melindunginya dan rekan-rekan dengan cara berjuang di jalur koperatif dengan penguasa militer Jepang.
Walaupun awalnya golongan tua menolak untuk beraksi cepat di hari-hari menuju proklamasi, para pemuda yang dimentori oleh Sjahrir nantinya yang akan membawa Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok untuk dijauhkan dari pengaruh Jepang untuk secepatnya mendeklarasikan kemerdekaan. Bahkan para pemuda pengikut Sjahrir di Cirebon sudah sempat berkumpul di alun-alun kota untuk mendeklarasikan kemerdekaan dua hari sebelum 17 Agustus.
Sutan Sjahrir sendiri lahir di Padang Panjang tanggal 05 Maret 1909 namun menghabiskan banyak waktu kecilnya di kota Medan, karena ayahnya adalah seorang kepala jaksa yang berdinas di Medan. Ayahnya pun adalah penasehat dari Sultan Deli. Perjalanan berorganisasi dan berpolitik Sutan Sjahrir sudah dimulai dari masa sekolah terutama sejak di AMS Bandung. Di sana ia bergabung dalam Jong Indonesie. Pada saat masa kuliah di negeri Belanda, Sjahrir muda berkenalan dengan paham sosialisme yang sedang berkembang di Eropa. Klub Mahasiswa Sosial Demokrat menjadi salah satu ajang diskusinya. Kelak di masa awal kemerdekaan, Sjahrir mendirikan Partai Rakyat Sosialis untuk mewujudkan sosialisme-kerakyatan yang dicita-citakannya.
Di tahun 1945, Republik Indonesia yang baru berdiri ini sedang menghadapi Belanda yang tidak mau mengakui kemerdekaan bekas koloninya. 14 November 1945, Sjahrir yang juga piawai berdiplomasi diangkat menjadi Perdana Menteri pertama RI. Ia akan memimpin misi-misi diplomasi termasuk dalam perundingan Linggarjati dan pembelaan Indonesia di forum PBB.
Selepas jabatan perdana Menteri, Bung Sjahrir membentuk Partai Sosialis Indonesia dari Partai Rakyat Sosialis yang didirikannya dulu. Partai ini berisi kader-kader muda yang cakap dan berpengaruh di bidangnya seperti Soebadio Sastrosatomo, Soemitro Djojohadikoesoemo & Soedjatmoko. Namun, Hari Kemerdekaan tahun 1960, yang seharusnya menjadi hari gembira, menjadi hari yang menyedihkan bagi Sjahrir. Partai yang dibesarkan olehnya dibubarkan oleh pemerintah Sukarno di masa Demokrasi Terpimpin. Dua tahun kemudian, Sjahrir pun harus dijebloskan ke penjara karena dituduh terlibat dalam gerakan subversif melawan pemerintah. Bapak Bangsa ini pun menghembuskan napas terakhir tahun 1966 pada saat berobat di luar negeri dalam status sebagai tahanan politik.
Karya pemikiran Sutan Sjahrir mungkin belum banyak dikenal oleh generasi muda sekarang. Di momen bulan kemerdekaan ini, kami ingin mengajak teman-teman untuk napak tilas ke tempat-tempat yang berhubungan dengan kehidupan Bung Sjahrir di Jakarta. Kita akan merefleksikan nilai-nilai, karya, dan teladan dari Bung Kecil yang sangat teguh pada pendiriannya dalam memperjuangkan keadilan sosial bagi rakyat.