Pengumuman : Telah dibuka tour jam 09:00 WIB. Terima kasih
Amir Sjarifuddin, nama yang sering kita dengar di awal sejarah Republik Indonesia. Namanya kerap muncul di dalam pembahasan tentang Perundingan Linggarjati dan Renville. Namun sayangnya hanya sebatas itu yang orang ketahui, selain beliau dieksekusi mati karena dugaan terlibat dalam Pemberontakan MUSO. Padahal ada banyak hal-hal menarik tentang kisah hidup Sang Perdana Menteri ini, termasuk : Bung Amir adalah aktivis di Jong Batak, tokoh Sumpah Pemuda, dan pejuang untuk keadilan sosial.
Amir kecil lahir di kota Medan dari keluarga Batak Angkola. Kakeknya adalah seorang bangsawan terpandang yang bergelar Sutan Gunung Tua. Ia juga memiiki seorang sepupu yang adalah lulusan dari Universitas Leiden dan menjadi anggota Volksraad, Todung Sutan Gunung Mulia. Kelak sepupunya ini akan berkontribusi dalam hidup Amir di masa mendatang termasuk dalam menyelamatkannya pada saat ditangkap oleh pemerintah kolonial.
Sepulang dari sekolah menengah atas di negeri Belanda, Amir melanjutkan kuliahnya di sekolah elite hukum, Rechtshogeschool Batavia. Dalam arsip Belanda yang ditemukan oleh Indonesianis dari Prancis bernama Jacques Leclerc, ada pengakuan dari Amir Sjarifuddin bahwa : Di tahun kedua kuliahnya di tahun 1928, mulailah ia berkenalan dengan dunia politik. Ia menjadi anggota Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia dan redaktur majalah Indonesia Raya. Begitu lulus kuliah sebagai seorang advokat, di bidang yang juga digeluti oleh ayah dan kakeknya, Ia memantapkan diri untuk menjadi pengacara bagi para tahanan politik.
Karena karya tulisnya berjudul “Aksi Massa” dalam majalah Banteng Partindo, Amir harus berhadapan dengan pengadilan kolonial dan dihukum penjara dari Desember 1933 sampai Juni 1935. Setelah keluar dari penjara, ia lantas menikah di tahun 1935 di Jakarta dengan seorang pujaan hati yang bermarga sama dengannya, Harahap. Ini adalah suatu hal yang sangat beresiko yang dilakukan Amir sebagai seorang bersuku Batak karena berpotensi mendatangkan sanksi adat. Setelah masuk penjara lagi untuk kedua kalinya, Amir terpaksa harus bekerja dalam birokrasi kolonial, tepatnya di Kementerian Perekonomian (Departemen Economische Zaken), agar dapat mencukupkan kebutuhan keluarganya.
Di masa pendudukan Jepang, Amir menjadi seorang pejuang anti-fasis dan memilih perjuangan bawah tanah. Kemudian Ia dijebloskan lagi ke penjara oleh Kempetai di zaman Jepang dan mendapat vonis hukuman mati. Namun karena andil dari Bung Karno dan Bung Hatta, hukumannya diubah menjadi seumur hidup. Amir baru bebas setelah Indonesia merdeka.
Di zaman kemerdekaan, Ia dipercaya menjadi Menteri Penerangan dan Menteri Pertahanan. Amir terlibat dari perundingan Linggarjati. Dan masa Amir menjadi Perdana Menteri kedua, Ia memimpin proses perundingan di atas kapal Amerika, USS Renville di Tanjung Priok. Namun kabinetnya jatuh di bulan keenam masa pemerintahannya karena dianggap gagal oleh parlemen dalam perundingan Renville. Dan di tahun yang sama, Amir Sjarifuddin muncul di Madiun di tengah pusara pemberontakan PKI Muso 1948. Apa yang membuat Amir berada di sana? Ada pepatah mengatakan “Revolusi memakan anaknya sendiri.” Misteri ini yang akan menjadi salah satu pembahasan dalam rute perjalanan ini.
Mari berjalan bersama untuk napak tilas ke tempat-tempat yang berhubungan dengan kehidupan tokoh Sang Perdana Menteri kedua Republik Indonesia, Amir Sjarifuddin.